Dwi Rahmanto
Dwi Rahmanto Every Sphere has a Story

DINAMIKA LITOSFER : Dinamika Lempeng Tektonik

A. Teori Tektonik Lempeng

Dalam ilmu Geografi, pemahaman mengenai bagaimana permukaan Bumi berubah didasarkan pada Teori Tektonik Lempeng. Teori ini menjelaskan bahwa kerak Bumi (litosfer) tidaklah utuh, melainkan terdiri dari lempeng-lempeng kaku yang "terapung" dan bergerak di atas lapisan mantel yang bersifat plastis (astenosfer).

Arus Konveksi

Penyebab utama pergerakan lempeng adalah adanya arus konveksi di dalam mantel Bumi. Inti Bumi yang sangat panas memanaskan material mantel di sekitarnya. Material panas ini naik ke permukaan, mendingin, lalu turun kembali. Proses ini menciptakan aliran putaran yang terus-menerus mendorong lempeng-lempeng di atasnya untuk bergerak.

Terdapat dua teori utama yang mendasari pemahaman tentang pergerakan lempeng tektonik, yaitu :

1. Teori Apungan Benua (Continental Drift Theory)

Teori ini dikemukakan oleh seorang ahli meteorologi asal Jerman, Alfred Wegener, dalam bukunya The Origin of Continents and Oceans (1912). Wegener berpendapat bahwa pada zaman Karbon (sekitar 225 juta tahun lalu), semua benua di Bumi menyatu membentuk satu daratan raksasa yang disebut Pangaea.

Seiring berjalannya waktu geologis, Pangaea terpecah menjadi dua, yaitu Laurasia di bagian utara dan Gondwana di bagian selatan, yang kemudian terus terpecah hingga menjadi konfigurasi benua seperti sekarang. Bukti-bukti pendukung teori ini meliputi:

  • Persamaan Garis Pantai: Pantai timur Amerika Selatan "pas" jika digabungkan dengan pantai barat Afrika, seperti kepingan puzzle.
  • Kesamaan Fosil: Fosil hewan reptil air tawar (seperti Mesosaurus) dan tumbuhan pakis purba (Glossopteris) yang sama ditemukan di benua Amerika Selatan, Afrika, India, Antartika, dan Australia yang sekarang terpisah jauh oleh samudra.
  • Kesamaan Jenis Batuan: Struktur dan usia batuan di pegunungan Appalachian (AS) identik dengan pegunungan di Skotlandia dan Skandinavia.
  • Bukti Iklim Purba: Ditemukan jejak gletser (es) di wilayah tropis seperti India dan Afrika, serta cadangan batubara (hutan tropis) di Antartika yang beku.

2. Teori Pemekaran Lantai Samudera (Sea Floor Spreading)

Meskipun Wegener mampu membuktikan bahwa benua bergerak, ia belum bisa menjelaskan penyebabnya. Jawaban ini baru muncul pada tahun 1960 melalui Harry Hess. Ia mengemukakan bahwa di dasar samudera terdapat Pematang Tengah Samudera (Mid-Ocean Ridge).

Hess menjelaskan bahwa magma dari dalam mantel Bumi naik ke permukaan melalui pematang tersebut, lalu membeku, dan membentuk kerak samudera yang baru. Kerak baru ini terus mendorong kerak yang lebih tua ke arah samping, sehingga lantai samudera mengalami pemekaran. Proses inilah yang menjadi mekanisme utama yang mendorong benua-benua untuk saling menjauh.

Jika lapisan bumi adalah sebuah telur rebus yang retak cangkangnya, maka potongan-potongan cangkang itulah yang kita sebut sebagai Lempeng Tektonik. Lempeng-lempeng ini tidak diam, melainkan terus bergerak di atas lapisan astenosfer yang bersifat plastis. Bukti-bukti pendukung teori ini meliputi:

  • Pematang Tengah Samudra: Ditemukannya rantai pegunungan raksasa di dasar laut (seperti Mid-Atlantic Ridge) tempat magma naik membentuk kerak baru.
  • Umur Batuan Dasar Laut: Batuan paling muda berada di pusat pematang, sedangkan batuan semakin tua seiring menjauhnya jarak dari pusat pematang.
  • Paleomagnetisme: Ditemukan pola magnetik "garis zebra" yang simetris di kedua sisi pematang, membuktikan lantai laut melebar dari titik pusat yang sama.
  • Ketebalan Sedimen: Lapisan endapan (sedimen) sangat tipis di dekat pematang dan semakin tebal di wilayah yang lebih jauh karena umur keraknya lebih tua.

Alur Singkat Hubungan Ketiganya:

  1. Panas Inti Bumi memicu Arus Konveksi (gerakan memutar di mantel).

  2. Arus Konveksi mendorong keluar magma di Pematang Tengah Samudra (Pemekaran Lantai Samudra).

  3. Pemekaran tersebut menyeret Lempeng Tektonik untuk bergerak (Teori Tektonik Lempeng/Apungan Benua).


2. Tiga Jenis Pergerakan Lempeng

Berdasarkan arah pergerakannya, interaksi antar lempeng dibagi menjadi tiga:

A. Konvergen (Saling Bertumbukan / Memendek)

Dua lempeng bergerak saling mendekat dan bertabrakan.

  • Subduksi (Penunjaman): Terjadi jika lempeng samudra (berat) menumbuk lempeng benua (ringan). Lempeng samudra akan menekuk ke bawah.

    • Dampak: Terbentuk palung laut, deretan gunung api (sirku), dan gempa bumi kuat.

    • Contoh: Tumbukan Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia di selatan Pulau Jawa.

  • Kolisi (Tabrakan): Terjadi jika sesama lempeng benua bertabrakan. Karena sama-sama ringan, keduanya terlipat ke atas.

    • Dampak: Terbentuk pegunungan lipatan raksasa (non-vulkanik).

    • Contoh: Pegunungan Himalaya.

B. Divergen (Saling Menjauh / Merenggang)

Dua lempeng bergerak saling menjauh.

  • Mekanisme: Magma naik dari mantel untuk mengisi celah yang ditinggalkan lempeng.

  • Dampak: Terbentuknya kerak baru, dasar laut semakin luas (Sea Floor Spreading), dan munculnya deretan gunung api bawah laut.

  • Contoh: Mid-Ocean Ridge (Pematang Tengah Samudra di Samudra Atlantik) dan Great Rift Valley (Lembah Retakan) di Afrika Timur.

C. Transform (Saling Berpapasan / Bergeser)

Dua lempeng bergerak saling bergeser secara mendatar atau sejajar namun berlawanan arah.

  • Dampak: Tidak ada pembentukan atau penghancuran kerak, namun menimbulkan gesekan hebat yang memicu gempa bumi dangkal yang sangat merusak.

  • Contoh: Sesar San Andreas di California dan Sesar Semangko di Sumatera.


4. Dampak bagi Wilayah Indonesia

Indonesia terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik besar:

  1. Lempeng Indo-Australia (Bergerak ke Utara)

  2. Lempeng Eurasia (Bergerak ke Tenggara)

  3. Lempeng Pasifik (Bergerak ke Barat)

Akibatnya:

  • Indonesia memiliki banyak gunung api aktif (Ring of Fire).

  • Indonesia sering mengalami gempa bumi (tektonik dan vulkanik).

  • Indonesia memiliki kekayaan mineral tambang karena aktivitas magma.


Dwi Rahmanto
Dwi Rahmanto  Every Sphere has a Story

Komentar